Header

Showing posts with label guru. Show all posts
Showing posts with label guru. Show all posts

Thursday, September 6, 2012

Training Peer Observation St. Andreas

 Sebagai lanjutan program AAS, tgl 4 Agustus 2012, diadakan training Peer Observation untuk para guru di SD St. Andreas. Training ini bertujuan memberikan panduan bagi para guru untuk melakukan observasi terhadap rekan kerja mereka. Harapannya, para guru dapat saling berbagi ketrampilan demi meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar di SD St. Andreas.
Sesi terakhir training adalah simulasi. Sesi ini penting sekali untuk membuka wawasan para guru, bagaimana caranya menyampaikan hasil observasi kita kepada rekan sekerja tanpa menimbulkan konflik di masa datang.
Peserta training bermain games menebak ‘Siapa Dalangnya?’

 Materi disampaikan oleh Ibu Septiari Goloa, M. Pd (Cand.)


Peserta melakukan simulasi menjadi observer yang
sedang menyampaikan hasil observasinya kepada rekan sekerja

Thursday, May 10, 2012

Training FUN Learning (Nailing Activity)

Pembelajaran yang menyenangkan itu adalah pembelajaran yang dirangkai dengan cara yang tidak biasa oleh guru dan anak didik. Dimana penekanan makna pembelajaran ada pada siswa yang merupakan "pusat" dari kegiatan belajar mengajar (student centre). Untuk itu diperlukan guru yang dapat memfasilitasi kegiatan belajar yang menarik, kreatif serta menyenangkan bagi siswa.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim AAS merancang metode FUN Learning. Metode FUN Learning adalah suatu metode belajar dimana siswa menjadi pelaku utama dalam proses KBM. Dengan metode ini, kondisi kelas dibuat senyaman mungkin, disertai dengan permainan-permainan edukatif dan stimulus-stimulus dari guru, sehingga informasi yang siswa dapatkan berasal dari pengalaman mereka sendiri. Guru bertugas hanya sebagai fasilitator yang membantu siswa dalam menemukan, mengembangkan dan merumuskan konsep dari suatu materi pembelajaran. Seperti salah satu ungkapan Mel Sieberman (2001) yang memperluas salah satu pernyataan Confucius berikut ini :

Apa yang saya dengar, saya lupa
Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit
Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain, saya mulai paham
Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan
Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya kuasai

Metode FUN Learning terdiri dari 3 tahapan utama, yaitu :

Finding :
Pada tahap ini siswa diajak untuk menemukan sendiri konsep dari suatu materi.

Uttering :
Pada tahap ini, siswa mengungkapkan dan mendiskusikan hasil tahapannya dengan guru dan teman sekelasnya. Pada tahap ini, guru berperan penting sebagai penguji hasil temuan siswa dan membenarkan apabila ada konsep siswa yang keliru.

Nailing :
Pada tahap ini, konsep yang sudah ada diaplikasikan dan direfleksikan dengan kondisi real, sehingga siswa jadi semakin paham akan materi tersebut.

Sebagai tindak lanjut dari training FUN Learning tahap 1 dan 2, maka kali ini guru SD St Andreas dibekali dengan training fun learning tahap 3 yaitu tepatnya pada tanggal 20 April 2012. Dalam training ini penekanan materinya adalah pada kegiatan nailing. Kegiatan nailing yang dimaksud adalah kegiatan untuk ‘memakukan atau menancapkan’ hal-hal yang telah dipelajari oleh siswa. Dalam kaitannya pada rangkaian kegiatan belajar di kelas adalah pada kegiatan refleksi. Diharapkan kegiatan refleksi sebagai cara yang efektif menolong siswa mengontrol proses berpikir dan perasaannya sendiri (Barell, 1985) karena seringkali di sekolah sudah didominasi dan dikontrol oleh orang dewasa. Siswa jarang membuat keputusannya sendiri tentang proses belajar mereka (Goodlad, 1984).

Guru-guru dibekali dengan tujuan dilakukannya refleksi di kelas. Dan tak lupa juga bentuk-bentuk refleksi yang menarik yang dapat digunakan oleh guru dalam pembelajaran di kelas. Beberapa bentuk refleksi yang disampaikan ke guru-guru adalah:
  • Direct reflection (refleksi lisan)
  • Jurnal reflection (buku refleksi)
  • Group sharing reflection
  • Visual reflection
  • Game reflection
  • Respond ball atau tongkat bicara
  • Spider web
  • Dengar, lihat, dan rasa
  • Finger respond
  • Pantomim
Seperti training AAS sebelumnya, maka di awal training, guru diajak melakukan permainan untuk lebih membangun suasana dan kekerabatan di antara rekan guru. Permainan yang dipilih juga berhubungan dengan tema training kali ini.



Permainan di awal training untuk menyemangati guru. Dalam permainan ini guru diminta menuliskan karakter positif tentang rekannya di punggung rekannya




Setelah itu kegiatan training diisi dengan materi tentang pentingnya "Nailing" activity dalam kegiatan belajar mengajar oleh Ibu Septiari Goloa, M.Pd (Cand). Guru sangat antusias dengan rangkaian kegiatan training. Adanya simulasi tentang contoh-contoh kegiatan "nailing" juga membantu guru dalam mengembangkan ide-ide penerapannya di kelas




Guru antusias mendengarkan penjelasan tentang "Nailing" activity dari Ibu Septiari Goloa, M.Pd (Cand)






Salah satu bentuk "Nailing" activity, yaitu dengan spider web






Kegiatan "Nailing" atau seringkali disebut kegiatan refleksi adalah kegiatan yang sering terlupakan padahal punya andil yang penting dalam memfiksasikan konsep yang sudah siswa temukan dan sampaikan di 2 tahapan sebelumnya (finding dan uttering). Kegiatan refleksi hendaknya berisi pertanyaan-pertanyaan terbuka yang mengeksplorasi siswa untuk bercerita atau menyampaikan apa yang ia rasakan / pikirkan tentang materi tersebut.


Apabila dilakukan secara terus-menerus dan dengan cara yang sama, maka kegiatan ini dapat menimbulkan efek bosan. Karena itu, guru dituntut untuk berkreasi dalam menciptakan kegiatan-kegiatan refleksi yang sesuai dengan materi, dan dengan tingkatan kelas siswa. 


Siswa kelas kecil (1-3 SD), cenderung belum mampu merefleksikan kegiatannya dalam bentuk tulisan, sehingga "visual reflection" menjadi pilihan yang tepat, dimana siswa dengan bebas menyampaikan pikiran dan idenya dalam bentuk gambar. Agar lebih menarik, visual reflection bisa dilakukan dengan menggunakan spidol warna/i, kertas warna/i, stiker, dll. Hal ini juga turut menstimulus siswa menjadi siswa yang kreatif. 


Sedangkan untuk siswa yang cenderung "talk-active", guru bisa memilih kegiatan tongkat bicara / respond ball atau dengan pantomim. Hal ini juga bisa membantu guru dalam kegiatan pengelolaan kelas.


Di akhir training, guru-guru diajak untuk merefleksikan hal-hal apa saja yang sudah mereka dapatkan pada training kali ini. Untuk "Nailing" activity ini digunakan games reflection dengan memainkan "treasure hunt". Dalam permainan ini guru-guru diberikan kertas-kertas dan diminta untuk mencari kata-kata yang mendeskripsikan tentang "Nailing" activity. Ternyata guru-guru sangat menikmati kegiatan ini. Apabila guru saja mengamati, maka para siswa pasti juga akan menikmati "Nailing" activity ini. Dan tidak akan menjadi hal yang sulit untuk mempraktekkannya dalam kegiatan belajar mengajar




"Tetapi bangunan yang dibangun oleh guru akan bertahan sepanjang abad
karena bangunan yang indah dan tak tampak itu adalah jiwa yang kekal dari seorang anak - Anonim"

Monday, April 16, 2012

SD Kasih Bunda (Periode Jan-Maret 2012)


Program yang sudah berjalan:

No
Program
Peserta
1
Training guru Peer Observation dan Review PBL dan IBL
Kepsek dan Guru SD Kasih Bunda dan SD Harapan Lestari
2
Implementasi Peer Observation dalam PBL dan IBL
Guru SD Kasih Bunda
3
Teacher’s Meeting
Kepsek dan Guru SD Kasih Bunda

Memasuki masa periode semester terakhir, guru dipersiapkan dengan training peer observation yang bertujuan untuk membekali guru agar dapat melakukan observasi di kelas rekan guru lainnya. Dalam peer observation tersebut nantinya guru diharapkan mampu untuk memberi penilaian terhadap guru lain yang dapat digunakan untuk membantu pengembangan kemampuan guru dalam implementasi PBL dan IBL bagi guru yang disupervisi dan guru yang melakukan supervisi itu sendiri.

Guru melakukan simulasi saat memberikan penilaian setelah melaksanakan peer observation

Guru antusias mengkuti rangkaian training peer observation
 
Setelah mengikuti training tersebut, guru akan mengimplementasikannya di dalam kelas. Untuk membantu persiapan pelaksanaan implementasinya, dilakukan konsultasi secara individu oleh tim AAS dengan guru. Di dalam konsultasi ini guru dibantu untuk mengembangkan ide yang telah dipersiapkan guru dan hal-hal teknis lainnya.

Berikut ini beberapa dokumentasi dalam implementasi IBL dan PBL di kelas.





Salah satu hasil karya siswa dalam PBL Matematika tentang Pecahan dan Bilangan Persen






Agar suasana presentasi lebih semangat dan lebih menarik, maka siswa menciptakan kreasi yel-yel sebelum memulai presentasinya






Dalam metode pembelajaran PBL, siswa diajarkan untuk belajar mandiri mengeksplore semua pengetahuan yang mereka dapat selama tahap pendahuluan dan pendalaman, lalu sekreatif mungkin menuangkannya dalam suatu produk yang menarik
 




Seorang siswa sedang membuat berbagai macam hewan dari plastisin sebagai media peraganya dalam mempresentasikan materi "Ciri-Ciri Makhuk Hidup" di depan kelas
Tabel perbandingan 2 bacaan yang diisi oleh siswa
 
Setelah implementasi program dilaksanakan di kelas, maka hal-hal perkembangan (kesuksesan dan kendala) yang dihadapi saat implementasi akan dibahas dalam “Teacher’s Meeting”. Dalam meeting ini juga akan dibahas secara bersama-sama solusi yang dapat dilakukan saat guru mengalami kendala dalam pelaksanaan program. Bersama-sama, baik dari pihak sekolah maupun dari tim AAS bekerja sama untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang cemerlang...